|
Menyitir leadership mind set theory dari Pak Mario Teguh agaknya cukup menghentak. ”Sepasukan domba yang dipimpin seekor srigala jauh lebih menakutkan dari sepasukan srigala yang dipimpin seekor domba”. (Metro TV, 8 September 2009). Ini berarti peran pemimpin sangat sentral dan berefek domino yang simultan.
Mahasiswa, sebagai calon pemimpin bangsa, ”sebagai srigala yang akan berdiri paling depan”, no choice, harus mampu mengilhami, membangkitkan, serta memberdayakan semua elemen yang dipimpin. Oleh karena itu, ada berbagai hal yang perlu digosok, dipahat, dibentuk dan diramu oleh siapapun, supaya mereka memiliki kecerdasan unggul, tidak hanya intelek, tetapi juga religius dan artistik. Penerapan sederhana dari semua itu meliputi: pola pikir, perbaikan kebiasaan, pengkayaan pengetahuan, pembangkitan rasa ingin tahu (curiosity) dan kesediaan untuk setia (persistensi) dalam mengejar visi. Komponen-komponen inilah yang dimaksud dengan softskill-holistik.
Target inilah, yang kurang lebih menjadi fokus pencapaian Pelatihan Membangun Kecerdasan Holistik (PMKH) Mahasiswa Perguruan Tinggi Wilayah II (Bogor, Cianjur, Sukabumi dan Depok), pada tanggal 4 s.d. 6 Agustus 2009 yang lalu. Sebagai tindak lanjut, Rektor mengemukakan bahwa dalam menghadapi tantangan abad 21 pendidikan mesti mampu mengubah paradigmanya dari yang fragmented menjadi pendekatan holistik yang menempatkan pendidikan dalam sebuah konteks lingkungan yang saling terkait (holistic approach). Kata holistic memiliki arti ’menyeluruh’ yang terdiri dari kata holy and healthy. Pandangan holistik bermakna membangun manusia yang utuh dan sehat, dan seimbang terkait dengan seluruh aspek dalam pembelajaran; seperti spiritual, moral, imajinasi, intelektual, budaya, estetika, emosi, dan fisik. Jadi healthy yang dimaksud bukan hanya phisically, tetapi lebih pada aspek sinergitas spiritually.
Menjadi pemimpin, pada intinya memang harus (baca: mutlak) berpengaruh. Namun demikian, cara memengaruhi yang dipimpin bukan dengan pendekatan materi, tetapi memadukan jiwa iman dan kasih sayang. Target kepemimpinan adalah membangun kasih, menebar kebajikan, dan penyalur rahmat Tuhan di muka bumi. Pendidikan bukan mesin penghasil hardskill yang pragmatis tetapi softskill outcomes yang humanis. Maka, ketrampilan berpikir logis, sistematis, kritis dan kreatif tidak hanya dijiwai oleh nuansa intelektual saja, tetapi juga religiusitas, serta artistik. Kapabel dalam bidang keilmuannya, konsisten dengan keyakinan keagamannya, serta komitmen mengubah apapun di sekitarnya menjadi ”indah”.
Lebih jauh, tujuan akhir yang ingin dicapai dalam pelaksanaan PMKH di Gumati Cafe tersebut adalah sebagai upaya untuk menguatkan kelembagaan perguruan tinggi dalam rangka membangun dan membudayakan kecerdasan holistik bagi mahasiswanya. Sebuah upaya, untuk menghasilkan berbagai model sistem pengembangan kecerdasan holistik oleh perguruan tinggi, dengan format yang paling sesuai bagi mahasiswanya. Konkretnya, tercipta sebuah fasilitasi, demi mengembangkan wawasan, sikap dan ketrampilan mahasiswa yang berlandaskan kecerdasan holistik dalam rangka mempersiapkan manusia Indonesia yang cerdas dan kompetitif. Sebuah fasilitas yang mempunyai ’daya bangkit’ softskill-holistik individual mahasiswa.
Tegasnya, PMKH juga dapat menjadi dorongan bagi individu untuk membangun kesadaran dalam proses pemaknaan (meaning) dan pencerahan (articulating) demi melahirkan insan kamil atau paripurna yang memiliki kecerdasan intelektual, emosional dan sosial, kecerdasan spiritual, serta kinestik. Potensi mahasiswa yang demikian besar, namun tanpa upaya ’pembangkitan’, softskill hanya akan menjadi softenjoy, sosok yang lunglai, atau bahkan mungkin softsavage, radikal dan bertangan dingin.
|